SILATURAHMI MASYARAKAT ADAT DAN ULAMA CIANJUR “NGAJAGA, NGARAKSA DAN NGARIKSA”

CIANJUR – Perkembangan dan kondisi kabupaten Cianjur akhir-akhir ini telah mengundang kepedulian dari Majlis adat Gagang Cikundul dan perkumpulan Srikandi Pasundan Ngahiji untuk Menyelenggarakan kegiatan silaturahmi antara pemuka Adat Pasundan dan para ulama se-kabupaten Cianjur yang bertempat di Gedong Asem Cianjur. Sabtu, 29/12/2018.

Kegiatan tersebut merupakan sebagai bentuk tanggapan dan keprihatinan karena semakin tercerai-berainya kelompok masyarakat Cianjur, yang seharusnya bersatu padu untuk mengatasi berbagai tantangan di era milenial ini menggerus jati diri dan kepribadian yang di wariskan para leluhur. silaturahmi ini juga sekaligus upaya konsolidasi seluruh unsur masyarakat yang di bimbing oleh para ulama dan tokoh adat untuk menyatukan pemikiran, tenaga dan daya untuk mengatasi persoalan-persoalan serius di bidang moralitas, intelektual dan budaya.

Dalam kegiatan silaturahmi Masyarakat adat dan Ulama Cianjur tersebut turut hadir Kapolres Cianjur AKBP Soliyah Sik MH, Dandim 0608, Para Tokoh ulama dan Budayawan Cianjur.

Sementara itu Ketua Srikandi Pasundan Ngahiji juga selaku ketua Majlis adat Gagang Cikundul Susane Febriyati SH, Menjelaskan bahwa Terbangunnya dialog antara tokoh adat dan ulama bersama-sama bisa membangun sebuah kepedulian Cianjur dan sekaligus kembali lagi membangun pondasi untuk mengingatkan kembali terhadap sejarah asal usul Cianjur agar bisa menjadi sebuah acuan untuk langkah Cianjur kedepan menjadi lebih baik. Dan kita juga akan menyampaikan sebuah rekomendasi yang akan kami sampaikan kepada pemerintah daerah kabupaten Cianjur, karena apapun yang terjadi hari ini dengan sebuah situasi kritis Cianjur  memerlukan sebuah reaksi-reaksi positif tentunya yang bertujuan untuk kemaslahatan seluruh masyarakat Cianjur.

lanjut Susane, kegiatan ini merupakan bagian dari ” Ngajaga, Ngaraksa dan ngariksa” sebagai introspeksi terhadap sebuah implementasi nilai-nilai Pilosopis Cianjur yang harus di implementasi kan didalam kehidupan sehari-hari baik dari tatanan aktivitas sosial ataupun oleh pemerintah itu sendiri didalam kepemimpinan nya, dan yang menjadi keprihatinan Cianjur saat ini tentunya menjadi sorotan untuk masyarakat Cianjur dalam memilih seorang pemimpin.

ini menjadi sebuah introspeksi mengingatkan kembali untuk menjalankan nilai nilai Pilosopis Cianjur tidak hanya sebatas didalam bahasa saja, tetapi juga menjadi acuan dalam pola kepemimpinan perlu adanya Pengembalian lagi sebuah kesejarahan Cianjur, Ngaos, Mamaos dan Maenpo dan sugih Mukti itu adalah merupakan bagian dari kesepakatan yang sudah di sepakati bahkan sudah didalam sebuah aturan Perda bahkan ini sudah sering kami ingatkan dari Majlis adat Gagang Cikundul untuk mengembalikan 3 Pilar Budaya Ngaos, Mamaos dan Maenpo dari 7 Pilar Budaya, Pungkasnya.

Sementara itu juga Dedi Brata selaku ka Ramaan majlis adat Gagang Cikundul menerangkan Bahwa kegiatan ini di laksanakan di Gedong Asem karena merupakan bagian supaya kami bisa mengingat kembali sejarah Gedong Asem dan juga merupakan Pioneer pesantren pada awal abad ke 19 yang mana santri santrinya itu berkembang dengan dasar pendidikan Islam bahkan Ngaos Mamaos dan Maenpo itu dilestarikan di gedong asem, tempat berkumpulnya para ulama, budayawan dan tempat berkumpulnya para paguron. Jadi gedong asem ini merupakan tempat bersejarah tempat untuk mbangkitkan kembali semangat Ngaos Mamaos dan Maenpo. terangnya kepada Reporter Journal news.

Liputan: Budi Panca

Journal News

Leave a comment

Your email address will not be published.