Masyarakat Desa Bangkaloa Anggap Keranda Mayat Dari Logam Bisa Membawa Sial

INDRAMAYU – Selain Kafan, Keranda Mayat (Katil) merupakan suatu bagian dari Seperangkat alat kematian, yang berfungsi untuk membawa jenazah dari rumah duka ke liang lahat di pemakaman umum. 
Sepintas Zaman dahulu ketika ada seorang warga yang wafat, masyarakat disekitarnya bergotong royong membuat Keranda Mayat (Katil) yang terbuat bahan bakunya dari kayu dan bambu dan digunakan sekali pakai, lalu dibiarkan dipemakaman umum hingga kering. 
Namun Selang dengan berkembangnya zaman, ada sebagian masyarakat memiliki ide bahwa  keranda mayat dibuat dari logam dengan tujuan agar efisien serta masyarakat tidak repot untuk membuat keranda mayat dari bambu yang makin lama makin langka pohon bambu.
Bahkan keranda mayat yang terbuat dari logam bisa tahan lama dan dapat digunakan selamanya serta dapat disimpan ditempat pemakaman umum Untuk dipergunakan suatu waktu.
Akan tetapi belakangan ini ada sebagian Warga Masyarakat di Kabupaten Indramayu Desa Bangkalo ilir Kecamatan Widasari menganggap bahwa Keranda logam yang disimpan dipemakaman umum berdampak membawa kesialan kematian berturut turut diwarga sekitar.
Andri warga sekitar menceritakan kenapa warga di desanya masih saja membuat keranda mayat dari bambu.
“Dulu sekitar tahun 2000, di Desa Kami ini punya keranda logam dan disimpan dipemakan Umum buyut warti, namun entah kenapa waktu itu ada orang meninggal baru dimakamkan menggunakan katil tersebut, selang dua hari kemudian ada orang yang ninggal lagi, hingga batas 2 minggu di desa kami mendapati 4 orang yang meninggal.” tuturnya.
Lebih lanjut dia menceritakan.”saat itu, ada orang tua (sesepuh) yang menganggap gara gara keranda logam bikin orang banyak yang meninggal.”ucapnya lagi
Kemudian orang orang terbawa anggapan tersebut hingga katil itu dibuang ke sungai. “sejak itu lah warga tidak menggunakan keranda logam dan sekarang warga buat keranda dengan bambu, meskipun dibuat butuh waktu 2 jam.” pungkasnya
Dari keyakinan itu, Keranda besi di Pemakaman Umum Buyut Warti di desa tersebut tidak ditemukan dan tetap menggunakan keranda mayat yang terbuat dari bambu. 
Karena warga menganggap akan membawa banyak deretan kematian,  hingga sekarang pemakaman umum di Desa Bangkaloa ilir tidak mempunyai Keranda logam.
Ditempat terpisah, Tusliha 40 (Wanita) dari unsur Tokoh Agama setempat menangkal adanya anggapan tersebut adalah mitos.
“Tidak dibenarkan anggapan warga seperti itu mas, itu hanyalah mitos, karena Katil tidak ada hubungannya dengan memanggil kematian warga berturut turut,.” katanya
Menurutnya anggapan tersebut berarti orang takut mati.”di dalam Al Qur’an Setiap Jiwa Pasti akan mati, artinya manusia yang hidup pasti akan mati, kapan pun, dimanapun, jadi anggapan karena katil membawa kematian berturut turut itu suatu pernyataan orang awam.” pungkasnya.
Reporter : BD
Journal News

Leave a comment

Your email address will not be published.