Jumlah perceraian di Kabupaten Cirebon, di prediksi terus meningkat.

CIREBON – Berdasarkan data dari Pengadilan Agama Kelas 1 A Sumber, tercatat perkara yang masuk dari Januari sampai dengan 20 Desember 2018 mencapai 7.425 gugatan, dan sedangkan jumlah lainya mencapai 420 perkara permohonan, Jumat (20/12/2018).

Mirisnya, gugatan perceraian di Wilayah Kabupaten Cirebon sangat dominan di latar belakangi oleh faktor ekonomi.

Sementara itu, Panitera Muda Pengadilan Agama Kelas 1 A Sumber, Atikah Komariah mengatakan, dominan di cerai gugat tersebut di latar belakangi faktor ekonomi, dan berdasarkan data dari Januari hingga per 20 Desember julmahnya cukup mencengangkan.

“Kita per-hari ini, ada perkara gugatan itu sekitar 7.425 sampai dengan hari ini yang mendaftar di pengadilan itu digugat, dan kalau di permohonan sekitar 420 perkara,” katanya di Kantor Pengadilan Agama Kelas 1 A Sumber, Jumat (21/12/2018).

Menurutnya, jika jumlah tersebut di totalkan capai 7.845 perkara hingga per 21 Desember 2018.

“Dari mulai Januari sampai per tanggal hari ini (21/12) seperti itu,” ujar Atika kepada Inderawaspada.com.

Dijelaskanya, beberapa faktor yang memicu peningkatan perceraian salah satunya penyebabnya adalah faktor ekonomi.

“Banyak istri yang menggugat karena faktor ekonomi, katanya suaminya tidak bisa memberikan nafkah dengan baik, tidak bisa membutuhi kebutuhan rumah tangga,” terangnya.

Dirinya pun sempat bertanya ke salah seorang yang mengajukan cerai talak, mengapa cerai talak tersebut terjadi.

“Kalau yang diajukan cerai talak, yang diajukan pihak suami kalau saya tanya mengapa?

Bapak mau menceraikan istrinya? Ini Bu, saya tidak sanggup kasih nafkah ke istri saya karena istri saya tidak nerima nafkah yang saya kasih karena saya pekerjaan saya kuli dan penghasilan saya tidak seberapa,” papar dia sambil menceritakan kala itu.

Atikah berpesan kepada masyarakat Kabupaten Cirebon, dari para pasangan muda-mudi yang akan menikah agar dipikirkan kembali.

“Yang namanya menikah itu tidak gampang, menikah itu tidak hanya hidup membina bahterah rumah tangga saja, akan tetapi banyak permasalahanya yang akan di hadapi setelah pernikahan yang mereka (calon pengantin) belum tahu sebelumnya,” ungkap dia.

“Jadi tolong matangkan dulu jika seandainya belum cukup umur, jika seandainya belum siap menikah jangan menikah dulu. Siapkan dulu jasmaninya, rohaninya, ekonominya dan mentalnya supaya jangan sampai baru satu tahun, dua tahun menikah terus digugat cerai ke Pengadilan Agama,” sambung Atika menutup perbincangan.

Wadira

Journal News

Leave a comment

Your email address will not be published.