Mungkin Nanti Ada Nenek Lampir, Pinocchio…

Ilustrasi
JOURNALNEWS – Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali membuat heboh perpolitikan tanah air dengan mengeluarkan istilah baru untuk para politikus tak beretika di negeri ini. Setelah sebelumnya ada istilah Sontoloyo, kini muncul Genderuwo. Bahkan Calon Presiden (Capres) nomor urut satu itu pernah membuat heboh dengan mengkaitkan situasi ekonomi global dengan film seri ‘Games of Thrones’.
Sementara ucapan Capres nomor urut dua, Prabowo Subianto, rakyat mengenal istilah tampang Boyolali yang dianggap hidupnya susah. Dan Cawapres Sandiaga Uno pun memperkenalkan politik Teletubbies yang suka berpelukan dan tidak suka marah.
Jerry Massie PhD, peneliti Indonesia Public Institute (IPI) mengatakan, diksi atau istilah dalam politik untuk saling menyerang antar pasangan calon (paslon) bisa saja akan terus terjadi. Ini jika keduanya tidak segera menyudahinya. ”Saya tidak tahu apakah istilah itu tidak sengaja atau memang sengaja dimainkan untuk menarik simpati bagi pemilih tradisional. Kalau ini memang diciptakan, ya pastinya akan muncul diksi lebih heboh lainnya. Sebut saja ada Nenek Lampir, Hantu Blau, dan Pinocchio,” ujarnya.
Jerry mengartikan sosok Nenek Lampir itu ibarat politisi yang suka banyak ngomong dan menakutkan dalam ucapannya. “Sedangkan Hantu Blau adalah ungkapan terhadap sesuatu yang tidak disuka. Kemudian Pinocio akan bisa muncul untuk menyerang pihak lawan yang tidak menepati janji atau sering berbohong,” tukasnya. 
Namun, Jerry mengaku bahwa diksi-diksi tersebut tidaklah mendidik demi untuk menyindir pihak lawan. Dirinya berharap pasangan capres harus cari bahasa politik yang mendidik. “Waktu dulu bahasa Barrack Obama ‘Change We Need’. Lebih baik visi misi yang jelas yang disampaikan ke publik. Bukan hanya bahasa basa-basi,” ucap peraih progam doktor politik di salah satu universitas di Amerika Serikat.

Ia menjelaskan, bahasa harus dijaga jangan emosional tanpa meaning atau artinya tidak ada. “Bagi saya Sontoloyo dan Genderuwo bahasa politik mubazir, secara lingiustik verbal agak lemah,” tandasnya. 
Atas dasar itu, lanjut Jerry, sebaiknya gunakan bahasa yang punya arti, manfaat, dampak, dan sasaran yang tepat. Ini karena bahasa sangat berpengaruh bagi seorang pemimpin. “Bahkan, dengan hanya memainkan istilah-istilah yang saling serang, saya pernah lihat di salah satu rilis lembaga survei yang mengungkapkan bahwa rakyat masih kurang jelas visi mereka apa. Banyak voters yang tak paham akan perpektif politik mereka,” ujarnya.

Hendri Satrio, pengamat komunikasi politik Univeritas Paramadina Jakarta turut mengkritik munculnya istilah politik yang justru makin memanaskan situasi politik. “Bukan sebaliknya, memberikan pendidikan politik yang baik,” katanya kepada INDOPOS.
Hendri menjelaskan, bila mengacu pada teori fungsi kampanye, seharusnya Jokowi, selaku petahana mengeluarkan bahasa acclaim, mempromosikan diri atau minimal defense atau bertahan. “Dan bukan ikut attack atau menyerang,” tukasnya.
Direktur eksekutif lembaga kajian dan survei Kedai Kopi ini pun menilai ada tiga kemungkinan Jokowi mengeluarkan kata-kata sindiran. “Pertama, Jokowi terpengaruh buzzer, pembisiknya, sehingga terpancing keluar kata-kata aneh. Kedua, sebagai bentuk kepanikan. Ketiga, karena mungkin aslinya gaya komunikasi politik Jokowi yang agresif, sehingga memang inginnya muncul di permukaan,” cetusnya.
Lebih lanjut, Hendri mengaku ada kata lain yang mungkin bisa muncul untuk kembali menyerang salah satu capres. “Yakni neraka. Untuk mengartikan bahwa kondisi bangsa saat ini seperti neraka,” tegasnya menambahkan.
Agus Riewanto, direktur Polhukam, Tata Negara dan Demokrasi Universitas Sebelas Maret Surakarta, Jawa Tengah menjelaskan, fenomena ini menunjukkan kurang santunnya para politisi dalam memilih idiom dan jargon politik. “Menjadikan arena politik sebagai ruang mengumpat dan sumpah serapah. Akibatnya akan berdampak buruk pada menurunnya etika politik,” terangnya.
Jika tak diingatkan, kata dia, kelak bukan hanya Jokowi atau Prabowo yang menggunakan idiom-idiom negatif, tapi juga semua politisi karena dianggap biasa. “Sebaiknya para politisi berhati-hati dalam memilih kata dan diksi dalam statemen politiknya katena akan berpotensi melahirkan kebencian dan kegaduhan politik,” sarannya.
Dirinya juga tidak menampik bahwa dimungkinkan akan muncul istilah baru lainnya dari kedua kubu. “Yang pasti ucapan dimunculkan agar lebih populer dan dapat perhatian publik,” tambahnya.
 (Cox’s)
Journal News

Leave a comment

Your email address will not be published.